Lifestyle

Saturday, 17 February 2024

A Restart #1

Gelap dan terang adalah perihal waktu

Berkah dan musibah pun begitu

Apa yang bertahan selamanya?


Jika mentari dan rembulan juga sama silih bergantinya



Semilir angin menyibak rambut seorang gadis yang tengah merendam kakinya di anak sungai yang cukup jernih. Ia dikelilingi oleh rimbunnya pepohonan yang berbaris tak beraturan. Matanya yang dihiasi oleh lingkaran hitam mengamati tempat ia singgah dengan seksama.


Surya telah bergerak menuju barat sedari tadi. Berapa lama ia berlari? Entah. Berapa lama suara tembakan-tembakan itu diredam lengangnya hutan? Entah. Yang gadis itu tau sebentar lagi malam akan memeluk langit, meninabobokan semesta dalam kelam. Namun bisakah ia tidur malam nanti? Entah. 


Suara napas gadis itu tak lagi seperti dengusan. Tangannya menjangkau air dengan gemetaran. Betapa baik malaikat maut padanya hari ini lantaran ia belum diangkut ke alam lain. Ia bahkan masih bisa menjangkau air yang berusaha mengalir keluar dari sela jemarinya. Air yang sama yang seolah enggan untuk mengalir pada kerongkongan gadis itu yang kering kerontang sejak tadi siang. 


Gadis itu meneguk air dari anak sungai itu. Air yang jernih sehingga dasar aliran itu nampak olehnya. Beberapa hewan air tampak tak peduli pada kehadiran gadis itu. Mereka sibuk dengan urusannya. Lantas gadis itu? Ia sibuk dengan pikirannya. Bagaimana ia akan bertahan di belantaranya hutan? Ia meringis menahan mirisnya pikiran yang memenuhi benaknya. 


Surya tenggelam dengan sempurna. Malam menjelma dalam bentuk kegelapan. Sementara bulan belum menampakkan jati dirinya. Dan bintang-gemintang baru sebatas remang-remang. Cahaya kunang terlihat jauh lebih terang. Gadis itu takjub. Sesaat ia lupa pada betapa pelik situasinya. Sesaat ia teralihkan dan terpesona pada pagelaran alam yang terpampang jelas di depan matanya. 


Rasa sakit yang tidak terlalu kentara bersarang di kakinya. Adakah ia kelelahan? Tentu saja. Ia bahkan tak bisa mengukur seberapa jauh ia berlari siang tadi. Tapi rasa sakit itu berbeda. Tangan gadis itu yang masih gemetaran menjangkau area dimana rasa sakit yang tak kunjung reda itu bersarang. 


"Aaagh" Gadis itu terpekik. Tangannya menjamah sesuatu yang kenyal dan besar. Benda atau makhluk itu menempel begitu kuat. Panik. Gadis itu berusaha sekuat tenaga agar sesuatu yang kenyal itu enyah dari kakinya. Namun usahanya berbuah nihil. Ia memukul-mukul makhluk itu, namun ia tak gentar. Gadis itu yakin apa yang merongrong dirinya adalah makhluk, bukan benda. 


Sekian menit berlalu. Gadis itu masih belum berhasil. Ia nyaris putus asa. Namun tiba-tiba makhluk itu menggulung dirinya dan jatuh ke dalam air. Gadis itu berlari secepat yang ia mampu untuk menjauhi air, sebab ia khawatir kawan-kawan makhluk itu akan menyerangnya juga. 


Gelap. Semuanya gelap. Hutan tiba-tiba terasa sunyi, mencekam, namun tidak lengang. Seolah ada banyak makhluk namun entah dimana mereka. Gadis itu mengedarkan pandangan hanya untuk mendapati kegelapan yang serupa mengerumuni dirinya. 


"Angkat tanganmu!" Suara berat seorang laki-laki membuat gadis itu terperanjat. Ia telah kalah. Takdir memang tak pernah memihak dirinya. 


"Jangan bergerak!" Suara itu kembali mengusik sunyinya hutan. 


Tidak. Bahkan jika ia harus mati, ia tak boleh mati tanpa perlawanan.


Gadis itu tak menurutkan perintah barusan. Ia berlari. Melesat zig-zag secepat yang ia bisa. Jantungnya berdegup tak lagi meributkan irama. 


Wush. Sesuatu melesat cepat di samping telinganya. Detak jantung gadis itu makin berkejaran. Sama dengan langkah kaki gontainya yang berkali-kali nyaris tersandung akar pepohonan, namun mereka masih sibuk berlarian menyelamatkan tubuh yang lemah itu. 


Wush. Sesuatu kembali melesat. 


Sedetik berikutnya gadis itu telah tersungkur. Sesuatu yang melesat cepat tak lagi melewatkan tubuhnya. Sebuah anak panah menancap kuat pada bahu kanannya. Sakit yang diakibatkan oleh peristiwa itu terasa amat menyiksa. 


"Jangan bergerak". 


Suara itu tak lagi digubris oleh pemilik tubuh yang terjerembab pada tanah berlapis dedaunan yang setengah membusuk. Sakit dibahunya terasa menjalar-jalar. Ia memejamkan mata kuat-kuat. Semua tampak gelap. Jadi apa gunanya ia membuka mata jika yang ia dapati hanyalah kegelapan? Jika semua jalan mengarah pada ketidakpastian, bukankah lebih baik ia berhenti sedari tadi?